Matahari siang itu sedang terik-teriknya, dan di dalam masjid sekolah, suasana yang harusnya tenang setelah shalat Dzuhur berjamaah mendadak berubah jadi panggung drama sinetron.

Saatnya tiba: Murojaah Bersama.
Semua murid sudah siap dengan Juz ’Amma masing-masing. Tapi di sudut dekat tiang masjid, Ardan malah bersandar di tembok keramik sambil menangis sesenggukan. Air matanya mengalir deras, mengusap mata pakai lengan kemeja putihnya yang kebesaran.

Kenapa Ardan nangis kejer? Apakah dia mendapat hidayah luar biasa saat shalat tadi?

Tentu saja bukan.

Neo, yang berdiri tepat di sebelah kirinya sambil memegang Juz ’Amma terbuka, langsung menoleh dengan raut wajah kaget sekaligus kepo setinggi langit. “Waduh, Dan! Kenapa loe nangis gitu? Lupa hapalan Surah Abasa ya? Kan tadi udah gue kasih tahu, abis ‘Abasa’ itu bukan ‘Terbitlah Terang’!”

Ardan cuma bisa menjawab sambil sesenggukan parah, “Bukan, Neo… hobi gue kan makan nasi uduk pas istirahat tadi… sambelnya pedes banget, trus tadi pas wudhu tanganku yang bekas sambel malah megang mata… huwaaaa, perih banget euy!”

Di sebelah kanannya, Sultan, si murid paling klimis yang dasi merahnya selalu terpasang sempurna seolah dilaminating, menatap Ardan dengan lirikan maut nan dingin. Sambil memegang bukunya dengan anggun, Sultan membatin: “Hadeh… anak ini bener-bener dah. Orang lain nangis karena takut dosa, dia nangis gara-gara kontaminasi sambel nasi uduk di kelopak mata. Mana murojaah mau mulai lagi, nambah-nambahi masalah aja.”

Sementara itu, anak-anak lain yang duduk lesehan di depan mereka cuma bisa lirak-lirik penasaran. Ada yang mikir Ardan lagi kesurupan, ada juga yang mikir Ardan nangis karena hapalannya diuji di depan Ustadz.

Dan begitulah, murojaah Dzuhur hari itu diwarnai dengan tragedi air mata sambel milik Ardan yang akan dikenang sepanjang masa oleh warga SD MUTU!