Ngadiluwih — Ada yang beda dan bener-bener menyentuh hati di peringatan Hari Santri Nasional tahun ini di Perguruan Muhammadiyah Ngadiluwih. Alih-alih cuma diisi seremonial biasa, seluruh civitas akademika dari lintas jenjang melangkah bersama menuju halaman perguruan untuk melaksanakan Sholat Istisqa’ (sholat meminta hujan) secara berjamaah.

Mulai dari deretan murid cilik TK ABA 1 Ngadiluwih, siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Ngadiluwih (SD Mutu), SMP Muhammadiyah 5, hingga kakak-kakak SMK Muhammadiyah Ngadiluwih berkumpul jadi satu barisan shaf yang rapi. Bergandengan tangan bersama para guru dan karyawan, mereka menunjukkan aksi nyata kepasrahan seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.


Khusyuk di Bawah Terik: Ketika Barisan Shaf Menyatukan Hati

Di tengah sengatan terik matahari yang cukup menyengat, suasana di halaman perguruan justru terasa begitu dingin oleh kekhusyukan. Tidak ada raut ngeluh atau gelisah. Yang ada hanyalah kepatuhan total saat menundukkan kepala, mendengarkan khotbah dengan hikmad, hingga secara kompak menyuarakan kata “Aamiin…” setiap kali doa dilantunkan.

Bertindak sebagai Imam dan Khatib dalam kesempatan sakral ini adalah Drs. H. Sigit Subiantoro. Suara lantang dan teduh dari beliau berhasil menggetarkan hati ratusan jamaah yang hadir di lapangan.

pesan Khotbah Bikin Jleb: “Saatnya Semua Pihak Refleksi dan Bertobat!”

Dalam khotbahnya yang sarat makna, Khatib memberikan pesan mendalam yang bikin siapa saja tersentak dan berpikir ulang. Beliau mengingatkan bahwa kita semua adalah hamba yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, sehingga memperbanyak istighfar serta bertobat dengan sebenar-benarnya (taubatan nasuha) adalah kunci utama.

Uniknya, pesan refleksi ini disampaikan secara merata tanpa pandang bulu:

“Hendaknya semua kalangan—mulai dari murid, guru, kepala sekolah, pimpinan ranting, cabang, daerah, wilayah hingga pusat, pejabat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, anggota DPR, para Menteri, bahkan Presiden—harus memperbanyak refleksi dan evaluasi diri. Kita semua harus memohon ampun dan bertobat atas segala dosa yang telah dilakukan, dengan harapan Allah berkenan mengampuni dan menurunkan Rahmat-Nya berupa hujan yang penuh keberkahan.”

Belajar Pengabdian dan Ketundukan Hakiki

Lewat momen Hari Santri Nasional ini, anak-anak Perguruan Muhammadiyah Ngadiluwih belajar satu hal penting yang tidak ada di buku pelajaran: bahwa esensi seorang santri dan hamba sejati adalah tahu kapan harus menundukkan kepala, menyadari kekurangan diri, dan memohon bantuan hanya kepada Allah SWT.

Semoga dari tulusnya doa anak-anak cilik hingga para tokoh yang bersatu di bawah langit Ngadiluwih hari ini, Allah SWT segera mengijabah doa-doa kita dan menurunkan hujan rahmat yang membasahi serta memulihkan bumi kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 🌧️🌱✨

Perguruan Muhammadiyah Ngadiluwih — Unggul, Islami, Berkemajuan.