
“Anak nggak butuh orang tua yang sempurna, tapi butuh orang tua yang terus mau belajar.” Kalimat sederhana itu menjadi benang merah dalam kegiatan Spiritual Healthy Parenting yang diselenggarakan SD Muhammadiyah 1 Ngadiluwih sebagai pembuka Tahun Pelajaran 2026/2027.
Lihat postingan ini di Instagram
Mengusung tema “Membasuh Luka, Membasuh Jiwa: Sinergi Guru dan Orang Tua Menjaga Amanah Suci Masa Depan”, seminar parenting ini sukses menghadirkan suasana yang hangat, penuh refleksi, sekaligus bikin banyak orang tua berkaca pada diri sendiri. Bersama Ustadz Hanif Asyhar, M.Pd., C.H., C.Ht, para peserta diajak menyadari bahwa mendidik anak ternyata dimulai dari menyembuhkan diri sendiri.
Salah satu pembahasan yang paling relate adalah tentang ketenangan orang tua. Sebelum memperbaiki perilaku anak, ternyata orang tua perlu lebih dulu menenangkan hati dan pikirannya. Melalui teknik relaksasi sederhana, pengaturan napas, hingga memperbanyak zikir dan istighfar, orang tua diajak membangun suasana hati yang damai. Sebab, anak lebih mudah meniru ketenangan daripada sekadar mendengarkan nasihat.
Nggak berhenti di situ, peserta juga diajak menyelami kembali pengalaman masa kecil masing-masing. Banyak perilaku orang tua hari ini ternyata dipengaruhi oleh pola asuh yang pernah mereka terima. Inilah makna sebenarnya dari “Membasuh Luka”—menyembuhkan luka pengasuhan agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Healing bukan sekadar tren, tapi menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang sehat.
Pembahasan berikutnya nggak kalah menarik. Setiap anak diciptakan Allah dengan keunikan dan potensi yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu memahami karakter anak agar cara berkomunikasi, mendampingi belajar, hingga memberikan motivasi benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Ketika anak dipahami, proses tumbuh kembang pun akan terasa lebih menyenangkan.
Di era digital seperti sekarang, tantangan terbesar juga ikut dibahas. Jangan sampai gadget menjadi “teman terbaik” anak, sementara orang tuanya justru terasa jauh. Narasumber mengingatkan bahwa keteladanan jauh lebih ampuh daripada sekadar aturan. Kalau ingin anak mengurangi screen time, maka orang tua juga perlu memberi contoh dengan lebih banyak menghadirkan perhatian dan waktu berkualitas bersama keluarga.
Sesi yang membuat banyak peserta terkesan adalah pengenalan teknik Hipno-Sleeping, yaitu memberikan doa, afirmasi, dan sugesti positif saat anak sedang tidur. Dengan bahasa yang lembut dan penuh kasih sayang, orang tua dapat menanamkan karakter baik sedikit demi sedikit sebagai ikhtiar mendampingi tumbuh kembang buah hati.
Menjelang akhir acara, suasana berubah menjadi lebih haru. Seluruh orang tua diminta menuliskan harapan terbaik untuk anak-anaknya, lalu didorong untuk menyampaikan harapan tersebut secara langsung di rumah. Momen sederhana ini mengingatkan bahwa setiap anak ingin didengar, dipeluk, dan diyakinkan bahwa dirinya dicintai tanpa syarat.
Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah 1 Ngadiluwih kembali menegaskan bahwa pendidikan anak usia emas, khususnya jenjang TK hingga SD, tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Pondasi tauhid yang kuat, keteladanan orang tua, komunikasi yang sehat, serta rumah yang penuh cinta adalah bekal utama untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia.
Karena pada akhirnya, anak hebat lahir bukan dari rumah yang sempurna, melainkan dari orang tua yang mau terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama. 💙

